Low Point
No achievement.
I hate achievement.
More hate it when I realize that I need it.
Aku akui, belakangan ini aku berada pada “Low Point”. hampir setiap hari ngerasa ‘bad mood’, hampir setiap waktu ‘feelin blue’, hampir setiap saat pengen melarikan diri dari ekspektasi, obligasi, intensi, dan bahkan dari mimpi-mimpiku sendiri!
Aku merasa bodoh, marah, sedih, kecewa, dan tak berarti. Ya, aku merasa tidak punya arti. Terutama bagi diriku sendiri.
Semangatku hilang entah kemana. Bahkan hal terpenting yang selama ini selalu ku elu-elukan, selalu kujunjung tinggi, sumber motivasi terbesar, hartaku yang paling berharga: mimpiku!!! Pun seakan kulepas pergi.
Aku takut hal yang kutakutkan akan terjadi. Mimpiku akan
bernasib sama dengan mimpi kebanyakan manusia lainnya yang akhirnya mau tidak
mau sepakat dengan istilah “kini mimpi tinggal lah mimpi”. Karena aku percaya
semua umat manusia memiliki mimpi, namun mimpi mereka mungkin akhirnya memudar
seiring dengan bertambahnya usia, padatnya waktu, kenyataan sudah berkeluarga,
atau karena rasa lelah yang mengkronis akibat terlalu banyak menelan pil pahit
kegagalan. Kemudian mereka bersedia untuk berkompromi dengan kenyataan bahwa
mimpi mereka akan selamanya menjadi mimpi. Lalu akankah aku menjadi salah satu
dari mereka? Yang pada akhirnya melepaskan mimpi yang telah kupegang erat
selama ini satu persatu, membiarkannya terbang ke angkasa hingga hilang dari
pandangan? Dan yang tersisa kemudian hanya kenangan? Kenangan seperti apa?
Apakah ia berupa perasaan yang kurasakan ketika aku memegangnya dengan sangat
erat? Apakah ia berupa usaha-usaha yang kulakukan untuk mewujudkannya menjadi
nyata? Apakah ia berupa rasa sakit dan kecewa? Apakah ia berupa ucapan, "Ah... setidaknya aku sudah melakukan sesuatu"?
Aku tahu aku masih punya waktu. Untuk melakukan sesuatu. Untuk menyelamatkan mimpiku. Untuk melanjutkan perjuangan sampai kapanpun itu. Untuk menyusun lagi kepercayaan bahwa Tuhan Maha Tahu yang terbaik. Untuk kembali meyakinkan diri bahwa apapun yang terjadi, sekecil apapun itu, merupakan mozaik yang menyusun hidupku. Dimana tanpanya, hidupku tidak akan sempurna. Ibarat puzzle yang terdiri dari bagian-bagian kecil, dimana tanpa satu bagiannya, akan ada ruang kosong yang membuatnya tidak sempurna pula.


Recent Comments