« February 2008 | Main | April 2008 »

March 31, 2008

Low Point

No achievement.

I hate achievement.

More hate it when I realize that I need it.   


Aku akui, belakangan ini aku berada pada “Low Point”. hampir setiap hari ngerasa ‘bad mood’, hampir setiap waktu ‘feelin blue’, hampir setiap saat pengen melarikan diri dari ekspektasi, obligasi, intensi, dan bahkan dari mimpi-mimpiku sendiri!

Aku merasa bodoh, marah, sedih, kecewa, dan tak berarti. Ya, aku merasa tidak punya arti. Terutama bagi diriku sendiri.

Semangatku hilang entah kemana. Bahkan hal terpenting yang selama ini selalu ku elu-elukan, selalu kujunjung tinggi, sumber motivasi terbesar, hartaku yang paling berharga: mimpiku!!! Pun seakan kulepas pergi.

Aku takut hal yang kutakutkan akan terjadi. Mimpiku akan bernasib sama dengan mimpi kebanyakan manusia lainnya yang akhirnya mau tidak mau sepakat dengan istilah “kini mimpi tinggal lah mimpi”. Karena aku percaya semua umat manusia memiliki mimpi, namun mimpi mereka mungkin akhirnya memudar seiring dengan bertambahnya usia, padatnya waktu, kenyataan sudah berkeluarga, atau karena rasa lelah yang mengkronis akibat terlalu banyak menelan pil pahit kegagalan. Kemudian mereka bersedia untuk berkompromi dengan kenyataan bahwa mimpi mereka akan selamanya menjadi mimpi. Lalu akankah aku menjadi salah satu dari mereka? Yang pada akhirnya melepaskan mimpi yang telah kupegang erat selama ini satu persatu, membiarkannya terbang ke angkasa hingga hilang dari pandangan? Dan yang tersisa kemudian hanya kenangan? Kenangan seperti apa? Apakah ia berupa perasaan yang kurasakan ketika aku memegangnya dengan sangat erat? Apakah ia berupa usaha-usaha yang kulakukan untuk mewujudkannya menjadi nyata? Apakah ia berupa rasa sakit dan kecewa? Apakah ia berupa ucapan, "Ah... setidaknya aku sudah melakukan sesuatu"?

Aku tahu aku masih punya waktu. Untuk melakukan sesuatu. Untuk menyelamatkan mimpiku. Untuk melanjutkan perjuangan sampai kapanpun itu. Untuk menyusun lagi kepercayaan bahwa Tuhan Maha Tahu yang terbaik. Untuk kembali meyakinkan diri bahwa apapun yang terjadi, sekecil apapun itu, merupakan mozaik yang menyusun hidupku. Dimana tanpanya, hidupku tidak akan sempurna. Ibarat puzzle yang terdiri dari bagian-bagian kecil, dimana tanpa satu bagiannya, akan ada ruang kosong yang membuatnya tidak sempurna pula.

                            

March 21, 2008

Bukan AKU yg Kau Cari.

Pernahkah kau merasa begitu kecil? Begitu kecil sehingga kau tak terlihat diantara orang-orang di sekitarmu. Mereka berbicara entah apa kau tak tahu. Dan mereka pun tak tahu, bahwa dibalik tubuhmu yang kecil ada semangat yang sangat besar. Semangat untuk meraih mimpi. Tapi entahlah mungkin apa yang kau miliki tak cukup untuk itu. Padahal jika yang kau miliki tak cukup, kau siap melakukan apapun untuk mencukupi itu. Selama kau masih mampu.  Namun jika yang kau lakukan pun tetap tak mencukupi, lalu kau pun berkata: inilah aku dan inilah yang aku punya, jika ini tak cukup bagimu, maka bukan aku yang kau cari.

March 12, 2008

Bagaimana Aku Tidak Cinta?

Bagaimana aku tidak cinta?
Jika kau adalah yang aku tuju setiap pagi buta

Bagaimana aku tidak cinta?
Jika jarak yang jauh pun kutempuh untukmu meski langit masih gelap gulita

Bagaimana aku tidak cinta?
Jika derai hujan dan dingin yang menggigit pun tak mampu menahanku untuk bertemu denganmu

Bagaimana aku tidak cinta?
Jika sehari tanpamu kurasa ada yang hilang dan aku rindu

Bagaimana aku tidak cinta?
Jika aku selalu setia disampingmu setiap waktu, bahkan di saat kau terjatuh

 

Maka jangan sebut aku tidak cinta. Sungguh aku cinta. Tapi terkadang kita memang harus melepaskan yang tercinta untuk yang terbaik. Sebab ada yang lain disana. Aku bisa merasakan-Nya disana. Meski aku tak tahu akankah dan bilakah itu terjadi. Sehingga belakangan inilah yang selalu kubisikkan dalam do’a usai shalatku:

“Ya Allah, jika memang pekerjaan itu adalah yang terbaik untukku di mata-Mu, jika memang pekerjaan itu membuatku lebih dekat dengan-Mu, dan jika memang pekerjaan itu mendatangkan ridha-Mu, mudahkan pekerjaan itu untukku…”




NB:

Sebab kini aku melihat lebih jelas. Di samping peningkatan karir, penghasilan, atau apapun namanya itu ada yang teramat jauh lebih penting dari semua itu: Ridha-Nya.

March 10, 2008

49 tahun

 49 tahun terakhir…
dunia semakin berwarna
penuh dengan bunga
dan semerbak harumnya

49 tahun terakhir…
seorang wanita telah mewarnai dunia
dengan bunga kesabaran
dan harumnya ketulusan hati

49 tahun yang lalu…
Tuhan mengutus malaikat cantik ke dunia
Dengan cinta dan kasih
Turut bersamanya

49 tahun yang lalu…
ibu peri-ku turun ke dunia
merengkuhku dengan sayap cinta
menyelimutiku dengan selimut kasih


17112007440Hari ini, 49 tahun yang lalu
Wanita itu: malaikat cantik itu: ibu peri itu: Ibuku, lahir ke dunia
Tapi tidak hanya di dunia
Dia akan tetap menjadi malaikat terbaik Tuhan selamanya...


 


Selamat ulang tahun, mama...



With all my love,
Selasa, 11 Maret 2008
11.20 AM


 

 

 

March 07, 2008

Setelah bertemu Kang Abik

Baru aja pulang dari satu seminar, dimana Kang Abik (Habiburrahman El Shirazy) adalah pembicaranya. Seneng juga krn baru kali ini ngeliat secara langsung penulis dari buku favorit-ku : ) Orangnya bersahaja, tutur katanya menyejukkan, sangat berkharisma.  Nggak heran kalau buku sebagus Ayat-ayat Cinta lahir dari hasil pemikirannya.
Kalimat awal yang pertama kali keluar dari mulutnya adalah, "Berbicara tentang cinta artinya berbicara tentang diri kita sendiri"

"Pada hari itu
sahabat-sahabat karib: sebagian akan menjadi musuh kepada sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang persahabatannya berdasarkan taqwa" (Az-Zukhruf:67)

Ayat di atas adalah salah satu ayat Al-Qur'an yang menginspirasi seorang Habiburrahman El Shirazy melahirkan Ayat-ayat Cinta. Benar sekali. Hari ini, bisa jadi kita berhubungan dekat dengan seseorang, tapi krn hubungan kita dengannya tidak berdasarkan ketakwaan kpd Allah SWT, di hari akhir nanti dia justru akan menjadi musuh bagi kita. Kenapa? krn semua yg kita lakukan dlm konteks hubungan yg tidak diridhoi Allah itu justru akan menjadi bumerang bagi kita suatu saat nanti.

Dalam salah satu hadis, Rasul juga bersabda:
"Di hari akhir nanti, kau akan bersama orang yang kau cintai"

Seperti Bilal, sahabat yang sangat mencintai Rasul. Ia meninggal krn kerinduan yg begitu besar kpd Rasul. Dan disanalah tempatnya, bersama orang yg ia cintai, bersama kekasih Allah: Baginda Rasul Muhammad SAW.

Kisah terakhir ini sedikit menyentil hatiku. Ketika ada saat-saat dimana aku merasakan rindu. Rindu yang teramat sangat, tapi entah pada siapa. Ya, kenapa tidak kuperuntukkan saja rinduku bagi-NYA dan baginya? bagi Allah dan kekasih-NYA, sebab aku ingin bersama mereka.


Jadi, kalau ingin tahu dimanakah kau akan berada di hari akhir nanti, lihatlah hatimu, ada siapa disana?

March 03, 2008

AYAT-AYAT CINTA

Mungkin perlu sedikit menghela nafas utk berbicara tentang Ayat-ayat Cinta. Buat aku pribadi, Ayat-ayat Cinta (novel) punya makna tersendiri. Humm.. butuh sedikit usaha membongkar memori utk ini.

Pertama kali tau tentang novel AAC, ngeliat di toko buku sekitar 3-4 thn yg lalu. Ngeliat covernya-sepasang mata perempuan di balik cadar, trus baca resensinya, insting ku bilang ini buku yg bagus, tapi entah kenapa selalu aja ada buku lain yg mengalahkan keinginanku utk memilikinya. Begitu terus.

Sampai akhirnya bulan Mei 2005. Waktu itu lagi ada di Jogja,... (Ok, harus menghela nafas lagi utk ini), hmmm.. kebetulan waktu itu harus ketemu dgn seseorang yang.. yah... cukup penting.. dan udah cukup lama ga ketemu. Kalo harus menggambarkan gimana perasaanku waktu itu, wah.. susah!!!

Sebelum berangkat, pagi itu sahabatku merekomendasikan satu buku, yg ternyata adalah Ayat-ayat Cinta! Entah gimana sampe' akhirnya buku itu aku bawa (ga ngerti utk apa krn aku tau pasti ga bakal bisa m'baca dlm kondisi kaya' gitu, yah.. m'baca aja mungkin bisa, tapi jgn tanya apa yg aku baca: I have no idea!!). Krn waktu itu di mataku isi buku itu cuma sederet kata2 yg maknanya menghilang tiba2. Yg pasti, buku itu adalah sesuatu yg aku pegang utk mengalirkan kekuatan & menutupi kegugupan, haha! Buku berjudul Ayat-ayat Cinta itu menjadi saksi mata atas apa yg terjadi saat sehari sebelum usiaku menjadi 21: 4 Mei 2005.

Sepulang dr Jogja, akhirnya aku berhasil juga membaca seluruh novel AAC (yg masih kupinjem juga dr shbtku yg laen :P). Dan di saat itulah, aku baru tau kalo buku itu bukan sekedar bagus, tp sangat bagus, sangat beda dgn buku kebanyakan, utk kemudian worthed utk menjadi : "My Inspiration Books" (culdn't find another stronger word than just favorite book). The most wonderful book that i've ever read.

Dan sebulan kemudian, aku mutusin utk menghadiahkan novel itu utk seseorg. Seseorg yg berada di Jogja tadi (gatau skrg ada dimana?). Aku cuma pengen dia ikut membaca buku yg aku anggap bagus. Yah.. meskipun sebenarnya aku sendiri nggak pernah memiliki buku itu. Sampai saat ini. Waktu itu mikirnya, aneh aja kalo suatu saat nanti ada 2 buku yg sama dlm 1 rak buku (am I too silly?). Humm.. tapi itu kan dulu, kalo sekarang.. yah.. mungkin ini waktu yg tepat utk memilikinya sendiri : )

Ok sekarang, kenapa novel Ayat-ayat Cinta itu bagus? Karena, didalamnya digambarkan cinta yg tidak pernah mengkhianati pencipta-NYA. Bagaimana cinta bisa menjadi begitu indah ketika ia bisa berjalan beriringan dengan penunaian tugas manusia sbg khalifah Allah (bukan justru bertentangan krn manusia yg kerap mengkambinghitamkan cinta). Betapa hidup dan mati hanyalah karena dan untuk Allah semata. Sebab & sehingga: Allah adalah cinta di atas segala cinta. Duh.. indahnya...

Untuk Ayat-ayat Cinta The Movie, (fiuhhh.. i'm dying for waiting this movie) akhirnya berhasil juga nonton waktu premiere hari Rabu 27 Februari kemaren. Kesimpulannya, filmnya tidak mengecewakan, tapi juga tidak memuaskan :P. Wajar dong, Kang Abik sendiri (penulisnya) nggak puas dgn isi bukunya. Jadi gini, kalo ada banyak orang yg kecewa dgn film Ayat-ayat Cinta, mungkin itu karena semua orang 'expect too much' dgn film itu, secara novelnya emang bisa dibilang nyaris sempurna. Mereka berharap akan mendapati sensasi yg sama dgn sensasi yg mereka peroleh ketika membaca bukunya. Wajar. Tapi meskipun ada detail2 di novel yg ditiadakan, filmnya udah cukup merepresentasikan cerita dari novelnya sendiri kok. Toh emang ga mudah utk mengadaptasikan novel laris ke layar lebar. Yg lebih penting mungkin, semoga film seperti Ayat-ayat Cinta The Movie bukan yg pertama dan yg terakhir. Semoga film ini akan menginspirasi movie maker lain utk memproduksi film yg bukan sekedar film, ato lebih parahnya semacam sinetron yg diangkat ke layar lebar. Semoga!

Great phrases:

"Kalau Allah menghendaki, siapa pun bisa menjadi jodohmu..."

"Aku ingin menjadi yang halal bagimu..."

Salute to Habiburrahman El-Shirazy & Hanung Bramantyo.

NB:

Utk kamu yg masih memantauku dari jauh: sepertinya buku kita tidak akan bertemu di satu rak buku yg sama kan? : )